Blog

  • Kegiatan Asesmen Lapangan untuk Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Pais Jakarta

    Kegiatan Asesmen Lapangan untuk Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Pais Jakarta

    Bekasi – Tim Asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) telah melaksanakan kegiatan Asesmen Lapangan (AL) untuk Program Studi (Prodi) S1 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Pais Jakarta. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan konstruktif ini merupakan bagian dari proses akreditasi untuk menjamin dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi teologi di Indonesia.

    Asesmen lapangan ini bertujuan untuk melakukan verifikasi, validasi, dan klarifikasi terhadap data serta informasi yang telah disampaikan oleh STT Pais Jakarta melalui Laporan Evaluasi Diri (LED) yang telah diunggah sebelumnya. Tim Asesor LAMDIK yang bertugas melakukan peninjauan mendalam terhadap berbagai aspek akademik dan non-akademik di lingkungan kampus.

    Selama proses asesmen, Tim Asesor mengadakan serangkaian pertemuan dengan berbagai pihak di STT Pais Jakarta. Agenda kegiatan meliputi diskusi dengan jajaran pimpinan sekolah tinggi, pimpinan program studi, dosen, serta tenaga kependidikan. Selain itu, asesor juga berdialog langsung dengan para mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai kualitas proses pembelajaran, luaran yang dihasilkan, serta kepuasan para pemangku kepentingan.

    Dr. Zakarias Manambe sebagai Ketua STT Pais Jakarta dalam sambutannya menyampaikan bahwa kunjungan Tim Asesor LAMDIK merupakan momen penting bagi institusi untuk melakukan evaluasi diri dan mendapatkan masukan berharga demi pengembangan di masa depan. “Kami menyambut baik kehadiran Tim Asesor LAMDIK. Proses asesmen ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus meningkatkan kualitas dan relevansi Program Studi S1 Pendidikan Agama Kristen agar dapat menghasilkan lulusan yang kompeten dan berintegritas untuk melayani gereja dan masyarakat,” ujarnya.

    Selain verifikasi dokumen dan wawancara, asesmen lapangan juga mencakup peninjauan langsung terhadap berbagai fasilitas pendukung kegiatan akademik seperti ruang kelas, perpustakaan, sarana ibadah, dan fasilitas penunjang lainnya.

    Hasil dari asesmen lapangan ini akan menjadi dasar bagi LAMDIK untuk menetapkan peringkat akreditasi Prodi S1 Pendidikan Agama Kristen STT Pais Jakarta. Peringkat akreditasi ini tidak hanya menjadi tolok ukur kualitas program studi di mata publik, tetapi juga menjadi acuan bagi pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan perguruan tinggi. Seluruh sivitas akademika STT Pais Jakarta berharap proses ini dapat membuahkan hasil terbaik yang akan semakin memantapkan langkah STT Pais dalam mencetak para pendidik Kristen yang profesional dan berdampak.

  • Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat  Menuju Generasi Emas 2045

    Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat Menuju Generasi Emas 2045

    Partisipasi Gereja Dalam Mempersiapkan Jemaat

    Menuju Generasi Emas 2045

    Oleh: Amistan Purba, S.Si (Teol.), SE, MM.

     

    PENGANTAR

     Pada tahun 2045 Indonesia akan menyongsong masa keemasan, yaitu saat usia kemerdekaan mencapai 100 tahun (1945-2045). Ini populer disebut dengan julukan Indonesia Emas 2045. Untuk merealisasi generasi emas ditahun 2045 seperti  yang dicanangkan  oleh  pemerintah ini bukanlah hanya  menjadi  tugas pemerintah saja namun gereja juga berperan penting dalam mempersiapkan jemaat untuk menuju generasi emas yang dimulai dari pemimpin gereja itu sendiri, dan ini menjadi tanggung jawab  bersama  baik pemerintah  dan  gereja.    Peran seorang pemimpin di  sini dibutuhkan kepribadian yang dibimbing dan dikuasai oleh Roh Kudus, sehingga tercermin kualitas integritas dari seorang pemimpin  memberi karisma kepada jemaat. Seorang pemimpin Kristen itu mendapat visi bukan berdasarkan ambisi yang dimiliki tetapi benar-benar inspirasi dari Tuhan.  Untuk mempersiapkan generasi emas di 2045 harus dibangun pondasi mulai dari saat ini dan yang untuk ditanamkan adalah karakter yang berpusat pada Kristus dan ini menjadi agenda untuk merealisasi visi yang dicapai.

    Generasi emas terbentuk dari SDM yang unggul. Peran gereja dalam mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 menjadi krusial. Gereja dapat berpartisipasi dalam mempersiapkan generasi emas 2045 melalui pendidikan, pembinaan, pengajaran nilai-nilai moral, dan perdamaian.

     

    I.  PENDIDIKAN

    Gereja dan lembaga pendidikan memegang peran penting dalam membentuk generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan diperhitungkan sebagai pilar utama pembangunan, karena memegang peran krusial dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Untuk merealisasi generasi emas Indonesia, diperlukan juga usaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Penting bagi gereja dan lembaga pendidikan untuk berkolaborasi.

     

    1. Kepemilikan Perguruan Tinggi

    Beberapa gereja yang memiliki perguruan tinggi dan sejenisnya (mencakup universitas, institut, sekolah tinggi, akademi) diantaranya:

    1) Gereja Katolik

    Gereja Katolik memiliki universitas, antara lain: Universitas Katolik Parahyangan di Bandung, Universitas Katolik Widya Mandala di Surabaya, Universitas Atmajaya di Jakarta.

    2) Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

    HKBP memiliki beberapa lembaga pendidikan tinggi, antara lain: Universitas HKBP Nommensen Medan, Sekolah Tinggi Teologi HKBP Pematang Siantar, Sekolah Tinggi Guru Huria HKBP Seminarium Sipoholon, Sekolah Tinggi Bibelvrouw HKBP Laguboti, Sekolah Tinggi Diakones HKBP Balige, Akademi Keperawatan HKBP Balige, semua berdomisili di Sumatera Utara.

    3) Gereja Methodist Indonesia

    Gereja Methodist Indonesia memiliki satu universitas yang dikelola, yaitu Universitas Methodist Indonesia di Medan.

    4) Gereja Kristen Indonesia (GKI)

    Gereja Kristen Indonesia memeiliki beberapa universitas yang dasosiasikan dengannya, antara lain Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jakarta, Unversitas Kriten Krida Wacana (UKRIDA) di Jakarta, dan Universitas Kristen Maranatha di Bandung. Selain itu, ada Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta, yang juga memilki hubungan dengan GKI.

    5) Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh

    Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh memiliki universitas yaitu Universitas Advent Indonesia di Bandung.

    6) Gereja Kristen Sumba

    Gereja Kristen Sumba memiliki universitas yaitu Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

    7) Gereja Kristen Pasundan

    Gereja Kristen Pasundan memiliki perguruan tinggi yaitu Institut Kesehatan Immanuel di Bandung.

    8) Gereja Kristus Yesus

    Gereja Kristys Yesus memiliki Sekolah Tinggi teologi Amanat Agung di Jakarta.

    9) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) memiliki Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)  di Sulawesi Utara.

    10) Gereja Bethel Indonesia (GBI)

    Gereja Bethel Indonesia memiliki kampus pendidikan tinggi teologi yaitu Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia (STTBI) di Jakarta.

    11) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI)

    Gereja Pantekosta di Indonesia memiliki beberapa kampus pendidikan tinggi, seperti Sekolah Tinggi Alkitab Batu, STT Cianjur, Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia.

    Selain gereja-gereja di atas, masih banyak gereja lainnya yang mempunyai asosiasi dengan perguruan tinggi. Asosiasi antara gereja dan perguruan tinggi bisa heterogen, mulai  dari gereja yang secara formal mendirikan atau mempunyai kepemilikan atas perguruan tinggi, hingga gereja yang memberikan support personalitas, finansial, atau sumber daya lainnya.

     

    1. Hal Penting Yang Perlu Dilakukan

    Beberapa hal yang penting untuk dilakukan

    • Melakukan transformasi digital pendidikan Kristen
    • Meningkatkan kualitas guru dan dosen
    • Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran
    • Pendidikan berbasis riset
    • Memfasilitasi penelitian dan publikasi ilmiah
    • Penguatan akreditasi program studi
    • Memfasilitasi sinergi nilai religius dan sekular

     

    1. Kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan

    Kolaborasi antara gereja dan lembaga pendidikan penting untuk menghasilkan generasi yang berkualitas, berkarakter stabil, dan berkeyakinan. Kolaborasi ini juga dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan rohani.

    1)  Signifikansi

    Signifikansi kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan:

    • Membantu menghasilkan generasi masa depan yang berkualitas dan berkarakter kuat
    • Membantu meningkatkan kualitas pendidikan rohani
    • Membantu meningkatkan mutu guru menjadi guru yang kompeten dan sehat rohani
    • Membantu menyelenggarakan sekolah yang bermutu
    • Membantu membentuk generasi muda yang memiliki pondasi iman yang kuat dan nilai-nilai moral yang benar
    • Membantu mendorong kemajuan sosial dan pembangunan

    Contoh kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan adalah membantu memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan masyarakat, baik dari segi rohani maupun kesejahteraan sosial.

    2) Kendala

    Kendala kolaborasi Gereja dan Lembaga Pendidikan:

    • Keterbatasan sumber daya, terutama di daerah terpencil
    • Persaingan dengan lembaga pendidikan lainnya.

     

    II. PEMBINAAN

    Pembinaan jemaat merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan gereja. Gereja dan tugas pembinaan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Gereja dapat mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 melalui pembinaan dengan berbagai kegiatan, seperti ibadah, sosial, dan katekisasi.

    1. Kegiatan

    Kegiatan pembinaan gereja di antaranya:

    • Mengadakan seminar tentang pergaulan masa kini
    • Memberikan konseling kepada remaja
    • Membangun relasi dengan lembaga pemerintah dan masyarakat
    • Membina iman Kristen dan karakter kristiani
    • Membina pemahaman dan kedewasaan iman kepada Yesus Kristus
    1. Peran

    Peran gereja dalam pembinaan di antaranya:

    • Membina orang-orang yang ada di dalam Kristus
    • Membangun karakter kristiani
    • Memanfaatkan remaja Kristen sebagai penerus bangsa di masa depan
    • Memanfaatkan anak sebagai bagian penting dari proses pembinaan jemaat

    Peran pemimpin gereja di antaranya:

    • Membina jemaat yang Tuhan percayakan
    • Memiliki sikap dan perilaku yang baik
    • Berkualifikasi memberi gagasan dan memotivasi orang lain untuk meneladaninya
    1. Tujuan

    Tujuan pembinaan di antaranya:

    • Mempersiapkan seluruh anggota jemaat dalam menghadapi tantangan
    • Membina pemahaman dan kedewasaan iman kepada Yesus Kristus
    • Membina generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang berdampak negatif.

     

    III. PENGAJARAN NILAI-NILAI MORAL

    Pengajaran nilai-nilai moral jemaat adalah proses pembelajaran nilai-nlai moral yang dilakukan kepada jemaat suatu agama. Gereja dapat mempersiapkan jemaat menuju generasi emas 2045 dengan mengajarkan nilai-nilai moral kepada jemaatnya melalui berbagai kegiatan dengan memadukan nilai agama dan ilmu pengetahuan.

    1. Metode

    Metode gereja mempersiapkan jemaat di antaranya:

    • Memfasilitasi pendidikan agama yang menjadi landasan untuk membentuk karakter dan moral
    • Mengajarkan nilai-nilai moral dan etika
    • Mengajarkan nilai-nilai kebajikan dan pola kehidupan yang sesuai dengan firman Tuhan
    • Mengajarkan nilai-nilai solidaritas dan mengatasi sikap materialistik
    1. Tujuan

    Tujuan pengajaran nilai-nilai moral di antaranya:

    • Membentuk generasi penerus yang beriman, berkarakter , dan bertanggung jawab
    • Membentuk generasi muda yang memiliki pondasi iman yang kuat dan nilai-nilai moral yang benar
    • Membimbing sikap hidup manusia supaya berbentuk kepribadian Kristen yang dapat dipercaya
    • Membangun individu yang bertanggung jawab dan bermoral
    • Meningkatkan empati, dan membentuk sikap positif terhadap orang lain.

     

    IV. PERDAMAIAN

    Perdamaian bagi jemaat Kristen adalah ajaran untuk hidup damai dengan sesama, lingkungan, dan Tuhan. Dunia sering diwarnai dengan konflik dan perpecahan, gereja memegang peran penting sebagai agen perdamaian di tengah ketidakpastian. Gereja juga dapat berperan penting di tengah masyarakat majemuk dalam mengajarkan misi perdamaian, termasuk didalam jemaatnya.

    1. Peran

    Peran gereja dalam mewujudkan perdamaian di antaranya:

    • Mengajarkan nilai-nilai perdamaian seperti kasih, toleransi, dan hidup berdampingan dengan komunitas lain
    • Menjadi contoh perdamaian dengan perbuatan cinta kasih terhadap sesama dan seluruh ciptaan
    • Mengajarkan untuk meneladani pribadi Yesus yang senantiasa mengajarkan perdamaian
    • Membawa damai antar umat beragama dan menjunjung toleransi yang setinggi-tingginya
    • Membangun masyarakat yang lebih baik dengan solidaritas sosial
    • Membangun komunitas di masyarakat melalui pelayanan diakonia.

    Peran gereja dalam jemaat di antaranya:

    • Menangani konflik di tengah-tengah jemaat
    • Membina karakter dan melakukan pengembalaan agar iman dan moral jemaat semakin bertumbuh
    • Melakukan kunjungan, mendoakan, dan mengasihi jemaat
    • Membangun hubungan yang harmonis dengan jemaat
    • Menjadi garam dan terang dunia bagi sekitar
    • Mengakomodasi perbedaan pendapat untuk membangun kesatuan dalam jemaat
    1. Tujuan

    Tujuan mengajarkan misi perdamaian kepada jemaat adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupan bergereja.

     

    PENUTUP

    Peran gereja  merupakan satu hal  yang sangat fundamental untuk mempersiapkan jemaat menuju generasi emas, karena gereja juga harus berpartisipasi dalam merealisasikan yang dicanangkan pemerintah di tahun 2045 Indonesia Emas.

    Gereja berperan dalam pendidikan jemaat sebagai bentuk partisipasi Kristen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembinaan warga gereja bertujuan untuk membina orang-orang yang ada di dalam Kristus. Mengaktualisasikan generasi emas 2045 bukanlah sesuatu yang mudah, perlu ditanamkan passion yang berdasarkan nilai religius, kebangsaan serta nilai kehidupan yang dihiasi dengan  moral, etika dan budi pekerti tinggi.  Gereja berperan penting di tengah masyarakat majemuk dalam mengajarkan misi perdamaian, karena gereja hadir membawa perdamaian bagi semua orang di tengah masyarakat majemuk.

    Penulis adalah Akademisi, Pemerhati Ekonomi dan Sosial, 

    Tinggal di Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat.

  • Lindungi Anak, PGI Gagas Gereja Ramah Anak di Indonesia

    Lindungi Anak, PGI Gagas Gereja Ramah Anak di Indonesia

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia kian mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 oleh Kementerian PPPA, sekitar 11,5 juta anak usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan, dan sekitar 7,6 juta di antaranya mengalaminya dalam satu tahun terakhir. Termasuk dalam kasus tersebut, kekerasan yang terjadi di lingkungan keagamaan, termasuk gereja, menjadi perhatian serius.

    Menanggapi kondisi darurat ini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) melalui Biro Keluarga dan Anak, bekerjasama dengan United Evangelical Mission (UEM), Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB), dan Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen (JKLPK), menggelar diskusi bertajuk “Gereja Merespons Darurat Perlindungan Anak di Indonesia” secara daring pada Selasa, 29 April 2025.

    Sekretaris Umum PGI Pdt. Darwin Darmawan dan Pendiri ECPACT Dr. Ahmad Sofyan, SH., MA. menjadi pemantik dalam diskusi yang dihadiri jemaat, pendeta, pimpinan sinode, dan perwakilan lembaga Kristen. Dalam paparannya, Pdt. Darwin menyatakan bahwa gereja harus mengambil sikap serius terhadap kekerasan anak, yang seringkali menjadi fenomena “gunung es” karena banyak kasus tidak dilaporkan.

    Ia menyoroti berbagai hambatan seperti budaya patriarki, anggapan kekerasan sebagai cara mendidik, hingga narasi religius yang memaksa korban untuk memaafkan demi nama baik gereja. Meski beberapa gereja telah memiliki kebijakan perlindungan anak dan membentuk satuan tugas, masih banyak gereja yang belum memiliki kemampuan dalam menghadapi persoalan tersebut.

    Pdt. Darwin berharap diskusi ini menjadi langkah awal untuk membangun gereja yang lebih responsif terhadap hak dan perlindungan anak. “Evaluasi terhadap sejauh mana gereja menjadi ruang yang ramah anak harus terus dilakukan agar pelayanan gereja semakin relevan dengan kebutuhan dasar anak-anak,” ujarnya.

    Sementara itu, Dr. Ahmad Sofyan mengingatkan bahwa eksploitasi seksual kini telah bergeser ke ranah digital. Ia mendorong orang tua untuk menjadi cakap digital agar dapat melindungi anak-anak dari kekerasan di ruang siber. “Anak-anak saat ini berpindah dari dunia nyata ke dunia maya yang penuh tantangan, maka orang tua perlu tahu aktivitas daring anak mereka,” jelas dosen Universitas Bina Nusantara ini.

    Lebih jauh, Sofyan menekankan pentingnya lembaga keagamaan memiliki panduan perlindungan anak (child protection guide) dan membangun budaya yang aman bagi anak. Orang tua juga perlu mampu menangani kasus eksploitasi seksual online tanpa menyalahkan anak dan segera berkonsultasi dengan pihak profesional.

    Diskusi diakhiri dengan sesi kelompok reflektif. Para peserta menyepakati bahwa PGI perlu mendorong anggotanya memiliki kebijakan perlindungan anak, menyosialisasikan pilot project Gereja Ramah Anak (GRA), melibatkan pusat krisis perempuan, serta meningkatkan edukasi berjenjang bagi para pemimpin gereja, pendeta, dan pembina remaja demi gereja yang aman bagi anak-anak. (RSO)

  • Papua Dipercaya Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Hari Doa Nasional 2025

    Papua Dipercaya Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan Hari Doa Nasional 2025

    WARTANASRANI.COM, DK JAKARTA – Papua kembali dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan Hari Doa Nasional (HDN) 2025. Agenda berskala internasional ini akan digelar pada 1–5 Juli 2025, dengan puncak perayaan HDN berlangsung di lapangan terbuka Sentani, Papua, pada 5 Juli 2025.

    Pernyataan resmi ini disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Senin (21/4/2025). Acara dihadiri oleh para pemimpin aras gereja nasional yang tergabung dalam Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI), antara lain Ketua Umum PGI Pdt. Jacky Manuputty, Ketua Umum PGLII Pdt. Tommy Lengkong, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII Pdt. Dr. Ronny Mandang, serta Anggota Majelis Pertimbangan PGLII sekaligus Pendiri House of Prayer for All Nations, Pdt. Lipiyus Biniluk.

    Turut hadir dalam konferensi pers tersebut: Sekum PGPI Pdt. Hano Palit, Mayor Maxel D. Latuputty dari Humas Gereja Bala Keselamatan, Mayor Stefanus Tulumang, Sekretaris Persekutuan Baptis Indonesia David Vidyatama, Wakil Sekum Gereja Ortodoks Indonesia Rm. Agapios Hideo, Sekretaris Eksekutif PGI Pdt. Muliathy Briany, Robby Repi (PP PGLII/Convocator FUKRI), dan Ketua Panitia Deinas Geley.

    Dengan mengusung tema “Ignite the Fire, From Papua to the Nations”, konferensi internasional dan Hari Doa Nasional 2025 menjadi seruan profetik agar api doa dan penginjilan kembali menyala dari Timur Indonesia menuju bangsa-bangsa. Pdt. Dr. Ronny Mandang dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini akan melibatkan pembicara dan peserta dari dalam serta luar negeri. “Kami hadir atas undangan Pdt. Lipiyus Biniluk dan Ketua Panitia untuk menyampaikan bahwa pada tanggal 1 hingga 5 Juli mendatang akan digelar konferensi internasional, doa, dan penginjilan, dengan puncak acara Hari Doa Nasional di Sentani,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa kegiatan ini bersifat inklusif. “Momentum ini bukan hanya untuk para tokoh aras nasional atau anggota FUKRI, tetapi terbuka bagi seluruh umat Kristiani dan masyarakat Indonesia. Bahkan diharapkan, setiap kota dan kabupaten turut ambil bagian aktif. Papua akan menjadi mercusuar doa dan penginjilan bagi bangsa-bangsa,” tambah Ronny.

    Rangkaian kegiatan akan disusun secara sistematis. Pada Mei 2025, penyusunan kerangka kegiatan akan dimulai; Juni 2025 menjadi waktu untuk sosialisasi besar-besaran; dan Juli 2025, pelaksanaan acara puncak yang dimulai dengan konferensi internasional dan ditutup dengan Hari Doa Nasional.

    Ronny berharap Presiden Republik Indonesia dapat hadir langsung memberikan arahan dalam acara puncak. “Kegiatan ini direncanakan berlangsung di lapangan terbuka sebagai simbol keterbukaan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.

    Ia menambahkan bahwa Papua dipilih karena memiliki makna spiritual yang kuat. “Kami percaya doa dapat menjadi pemersatu bangsa. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi awal dari gerakan spiritual nasional,” Ketua Panitia, Deinas Geley, menyampaikan harapan agar tanggal 5 Juli dapat ditetapkan sebagai Hari Doa Nasional resmi dalam kalender negara. “Kami sedang mengajukan usulan tersebut. Papua akan menjadi titik kumpul para pemimpin dunia untuk berdoa bersama bagi Indonesia,” ujarnya.

    Pdt. Lipiyus Biniluk menambahkan bahwa sejumlah pembicara kelas dunia telah menyatakan kesediaan hadir, antara lain: Rick Warren, Rick Riding dari Yerusalem, Michael Joe dari Korea, Tom Victor dari gerakan 2 Billion Children Movement, dan Charlie Rood dari India. “Papua adalah ‘surga kecil yang jatuh ke bumi’. Namun, justru karena banyaknya kepentingan di tanah ini, gereja harus bersuara, berdiri bersama rakyat Papua, dan membawa suara keadilan serta pengharapan,” tegasnya.

    Pdt. Jacky Manuputty menyampaikan refleksi mendalam tentang peran kekristenan di tengah krisis bangsa. “Papua tetap bisa menjadi berkat meski terluka. Seperti gereja abad pertama yang bertahan dan melayani saat kota-kota Romawi dilanda tragedi, demikian pula gereja hari ini: hadir, bertahan, dan menjadi terang di tengah tantangan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Pdt. Tommy Lengkong menekankan pentingnya menjangkau gereja lokal. “Gerakan ini tidak hanya menyasar pimpinan nasional, tetapi bergerak dari rumah doa di Papua hingga ke desa-desa,” katanya.

    Dukungan juga disampaikan oleh Rm. Agapios Hideo, David Vidyatama, dan Mayor Stefanus Tulimang, yang menilai acara ini sebagai momentum memperkuat fondasi spiritual bangsa lewat kesatuan gereja dalam doa.

    Menutup konferensi pers, Pdt. Ronny Mandang kembali menegaskan bahwa HDN 2025 merupakan ruang bersama lintas denominasi. “Di tengah dunia yang tidak baik-baik saja, gereja Indonesia terpanggil untuk bersatu, berdoa, dan menyuarakan keadilan serta kasih Tuhan.”

    Dengan tema besar “Ignite the Fire, From Papua to the Nations”, Hari Doa Nasional 2025 diharapkan menjadi titik balik kebangkitan rohani Indonesia. Dari tanah Papua yang menyimpan luka, nyala doa akan dikobarkan untuk memberkati Indonesia dan bangsa-bangsa. (RS)

  • Bedah Buku Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham di Jakarta Berjalan Sukses

    Bedah Buku Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar Dari Balik Gunung Mbaham di Jakarta Berjalan Sukses

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Pemerintah Provinsi Papua Barat kembali menorehkan sejarah literasi dengan meluncurkan buku biografi bertajuk Napak Tilas Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham. Buku ini menghadirkan kisah inspiratif perjalanan hidup Ali Baham Temongmere (ABT), seorang putra asli Kampung Kotam, Fakfak, yang berhasil mengukir prestasi sebagai Penjabat Gubernur Papua Barat.

    Bedah Buku Napak Tilas Ali Baham Temongmere: Cahaya Fajar dari balik Gunung Mbaham. (27/3/2025)

    Peluncuran buku ini berlangsung pada Senin, 10 Maret 2025, di Kantor Gubernur Papua Barat. Dalam acara tersebut, hadir Gubernur Dominggus Mandacan, Wakil Gubernur Muhamad Lakotani, dan Sekretaris Daerah Ali Baham Temongmere. Buku ini ditulis oleh tim penulis profesional, yakni Dwi Urip Premono, Wolas Krenak, dan Yusuf Mujiono, atas inisiasi Biro Administrasi Pimpinan Setda Papua Barat.

    Buku ini tidak hanya memuat perjalanan karier ABT, tetapi juga menggali lebih dalam tentang budaya, sejarah, dan potensi daerah Papua Barat. Sebagai anak dari kampung yang sederhana, ABT berhasil menunjukkan bahwa kerja keras, pendidikan, dan cinta pada tanah air dapat membawa seseorang mencapai puncak kepemimpinan.

    Bedah buku ini juga digelar pada Kamis, 27 Maret 2025, di Hotel Redtop, Jakarta. Salah satu pembicara, Dr. Marlina Flassy dari Universitas Cenderawasih, menyoroti bahwa kepemimpinan ABT adalah contoh bagaimana budaya lokal dapat menjadi landasan kokoh bagi seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan modern.

    Kepala Badan Pengkajian Strategis Kemendagri, Yusharto Huntoyungo, menilai buku ini sebagai salah satu karya literasi yang tidak hanya mencatat sejarah kepemimpinan, tetapi juga memberikan nilai-nilai inspiratif bagi generasi muda dan calon pemimpin Indonesia.

    Buku Cahaya Fajar dari Balik Gunung Mbaham menjadi simbol semangat literasi dan motivasi bagi masyarakat Papua Barat. Lebih dari sekadar biografi, buku ini adalah pelajaran hidup tentang bagaimana memimpin dengan integritas, budaya, dan visi untuk membawa perubahan positif bagi daerah dan masyarakatnya. (RSO)

  • BMPTKKI WUJUDKAN SINERGI MELALUI MOU DENGAN DENGAN LAI DAN SILATURAHMI DENGAN PGI

    BMPTKKI WUJUDKAN SINERGI MELALUI MOU DENGAN DENGAN LAI DAN SILATURAHMI DENGAN PGI

    WARTANASRANI.COM, Jakarta, 27 Maret 2025 – Bidang Komunikasi dan Kerjasama Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Kristen se-Indonesia (BMPTKKI) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mempererat sinergi dengan lembaga-lembaga Kristen melalui berbagai inisiatif strategis.

    Penandatanganan MoU dengan LAI

    Hari ini, BMPTKKI bersama Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) secara resmi menjalin kerjasama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Penandatanganan ini dilaksanakan oleh Ketua Umum BMPTKKI, Dr. Stevri P.N.I. Lumintang dan Ketua Umum LAI, Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang. Sesi penandatanganan dilanjutkan oleh Sekretaris Umum BMPTKKI, Dr. Nasokhili Giawa, dan Sekretaris Umum LAI, Dr. Sigit Triyono, M.M., dengan disaksikan oleh Kepala Departemen Terjemahan LAI, Kabid Kerjasama dan Kemitraan LAI, serta beberapa staf lainnya.

    Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah pengurus BMPTKKI, yakni Dr. Eliver Radjagoekgoek (Dewan Pengawas), Dr. Antonius Natan (Bendahara Umum), Dr. Marintan Sitorus (Kabid Komunikasi dan Kerjasama), Dr. Eben Munthe (Sekretaris Bidang Komunikasi dan Kerjasama), dan Sheline (staf). Kolaborasi ini diharapkan memperkuat layanan Alkitab dan pengembangan pendidikan berbasis nilai-nilai Kristen di seluruh perguruan tinggi Kristen di Indonesia.

    Silaturahmi BMPTKKI dengan PGI

    Pada kesempatan yang sama, Bidang Komunikasi dan Kerjasama BMPTKKI juga memfasilitasi pertemuan silaturahmi dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Pertemuan ini diterima dengan baik oleh Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Dharmawan, M.A., Wakil Sekretaris Umum, Pdt. Lenta Enni Simbolan, M.A., M.Th., serta sejumlah kepala bidang dan staf PGI.

    Dalam pertemuan tersebut, beberapa isu strategis dibahas, antara lain:

    1. Krisis pendidikan di Indonesia – PGI dan BMPTKKI berkomitmen untuk mencari solusi bersama guna meningkatkan kualitas pendidikan berbasis Kristen.

    2. Fasilitasi pertemuan organisasi Perguruan Tinggi Kristen – PGI diharapkan dapat menjadi penghubung bagi sinergi antara berbagai organisasi PTKK.

    3. Rencana MoU antara PGI dan BMPTKKI – Kerjasama ini diharapkan menjadi landasan dalam mengembangkan program-program strategis bersama.

    Pertemuan ini menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menjawab tantangan-tantangan pendidikan dan pelayanan di tengah masyarakat Indonesia. Langkah-langkah konkret dari hasil pertemuan ini akan segera ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak.

    Melalui kedua kegiatan penting ini, BMPTKKI terus menunjukkan perannya sebagai mitra strategis dalam pelayanan pendidikan dan pengembangan nilai-nilai kekristenan di Indonesia. (RSO)

  • RUAT BMPTKKI 2025: KETUM PGPI PDT. DR. JASON BALOMPAPUENG TEKANKAN PENTINGNYA DOA YANG BERKUASA

    RUAT BMPTKKI 2025: KETUM PGPI PDT. DR. JASON BALOMPAPUENG TEKANKAN PENTINGNYA DOA YANG BERKUASA

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI) resmi dibuka di Season City, Jakarta Barat, dengan khidmat dan penuh makna. Mengusung tema “Bertolong-tolonglah Menanggung Bebanmu!” (Galatia 6:2), kegiatan ini diawali dengan tarian misi Nusantara yang menggambarkan semangat persatuan dan kerjasama dalam menuntaskan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus.

    Ibadah pembukaan menghadirkan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGPI), Pdt. Dr. Drs. Jason Balompapueng, MBA., M.Th., yang menyampaikan firman Tuhan berdasarkan Yakobus 5:16. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya doa sebagai kekuatan spiritual yang tidak hanya berdampak dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sekuler dan kebangsaan.

    “Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Doa mampu mengubah dari tidak ada menjadi ada. Doa tidak pernah sia-sia, karena melalui doa, kita berbicara langsung dengan Allah dan mendapatkan jawaban dari-Nya,” ujar Pdt. Jason di hadapan para peserta yang hadir, Senin (24/3/2025).

    Lebih lanjut, ia menjelaskan tiga faktor utama yang menentukan kekuatan doa. Pertama, doa itu sendiri sebagai hak istimewa orang percaya. “Doa adalah jalur khusus yang Allah berikan kepada kita. Ketika kita menyadari bahwa doa adalah hubungan dua arah dengan Tuhan, maka kita harus melakukannya dengan serius dan sungguh-sungguh. Jika program kerja kita dipersembahkan dalam doa, maka Allah akan memproteksi dan memberkati program tersebut,” jelasnya.

    Kedua, faktor orang yang berdoa. Menurut Pdt. Jason, doa yang berkuasa adalah doa dari orang benar, yaitu mereka yang telah dibersihkan dari ketidakbenaran dan mengaku dosa mereka kepada Tuhan. “Yang dibutuhkan dari kita adalah belas kasihan dan pengampunan, bukan hukuman. Hanya orang benar yang doanya memiliki kuasa besar,” tegasnya.

    Ketiga, keyakinan dalam berdoa. “Tingkat keyakinan sangat memengaruhi kualitas doa kita. Apapun yang kita doakan harus dilandasi oleh iman dan keyakinan yang kuat bahwa Tuhan akan menjawab,” tambahnya.

    Khotbah Pdt. Jason memberikan inspirasi mendalam bagi para peserta RUAT untuk menjadikan doa sebagai dasar dari setiap tindakan dan program kerja. Ia juga mengingatkan bahwa doa adalah kebutuhan rohani yang membawa setiap orang percaya semakin mengenal Tuhan secara pribadi.

    Ibadah pembukaan ini menjadi momentum penting bagi RUAT BMPTKKI 2025 untuk memulai rangkaian kegiatan dengan semangat baru. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari para pemimpin BMPTKKI serta berbagai pleno yang membahas program kerja dan kebijakan strategis untuk masa depan pendidikan tinggi Kristen di Indonesia.

    RUAT ini diharapkan tidak hanya memperkuat sinergi antar anggota BMPTKKI, tetapi juga menjadi wadah refleksi spiritual untuk menjalankan pelayanan dengan komitmen yang lebih tinggi. Dengan tema “Bertolong-tolonglah Menanggung Bebanmu!”, kegiatan ini menegaskan kembali pentingnya kerjasama dan doa dalam mewujudkan visi besar pendidikan Kristen yang berdampak luas. (RSO)

  • Munas Ke- 13 PGLII Berlangsung Sukses dan Meriah di Balikpapan

    Munas Ke- 13 PGLII Berlangsung Sukses dan Meriah di Balikpapan

    WARTANASRANI.COM, BALIKPAPAN – Musyawarah Nasional (Munas) ke-13 Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII) yang berlangsung pada 17-21 Maret 2025 di DOM Balikpapan berjalan sukses dan meriah. Acara yang mengusung tema *“Berdirilah Teguh dan Giatlah Selalu dalam Pekabaran Injil”* (1 Korintus 15:58b) ini dihadiri oleh ribuan umat dan pengurus PGLII dari seluruh Indonesia. Munas dibuka secara resmi oleh Direktur Pendidikan Kementerian Agama Republik Indonesia dan dihadiri oleh berbagai tokoh pemerintahan serta pemimpin gereja.

    Dalam sambutannya, Ketua Umum PGLII, Pdt. Ronny Mandang, menekankan pentingnya peran PGLII dalam tugas pemberitaan Injil di tengah bangsa dan negara. “Munas ini menjadi momentum bagi kita semua untuk kembali mengingat dan memperkuat panggilan kita sebagai pemberita Injil,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa meskipun dirinya tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum, ia akan tetap setia dalam pelayanan pemberitaan Injil.

    Direktur Urusan Agama RI, Dr. Amsal Yowei, turut mengapresiasi peran PGLII dalam menjaga keberagaman dan keharmonisan lintas denominasi gereja. Menurutnya, PGLII telah berkontribusi besar dalam memperkuat peran gereja sebagai suara keadilan dan kemanusiaan di tengah masyarakat. “Keberagaman harus dijaga dengan sikap saling menghormati, dan PGLII telah membuktikan peranannya dalam membangun harmoni di berbagai kelompok,” katanya.

    Munas kali ini juga diharapkan dapat menghasilkan program kerja strategis, khususnya dalam membangun generasi muda. Dr. Amsal menegaskan bahwa gereja harus menjadi bagian dari solusi dalam membina anak-anak muda agar memiliki karakter yang kuat dan nilai-nilai Kristiani yang kokoh. “Munas ini bukan hanya seremonial, tetapi juga momentum untuk merancang program yang berkontribusi bagi masa depan bangsa,” tambahnya.

    Pembukaan Munas PGLII semakin semarak dengan kehadiran berbagai tokoh, seperti perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang diwakili oleh Kolonel Sembiring, Staf Ahli Gubernur Kaltim, serta anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. Yulius Henock. Seluruh anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Kalimantan Timur juga turut hadir dalam acara tersebut.

    Kemeriahan Munas semakin terasa dengan pertunjukan gelar budaya yang menampilkan tarian *Bhinneka Tunggal Ika*, tarian adat Dayak, dan tarian Papua yang penuh semangat. Ketua Panitia, Pdt. Anthon Tarigan, didampingi Wakil Ketua Panitia, Pdt. Samuel Wattimena, serta Sekretaris Panitia, Pdt. Samuel Kusuma, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya Munas ke-13 PGLII dengan lancar dan sukses. (RS)

  • Munas PGLI ke-13 Dilaksanakan di Balikpapan Tanggal 17-21 Maret 2025

    Munas PGLI ke-13 Dilaksanakan di Balikpapan Tanggal 17-21 Maret 2025

    WARTANASRANI.COM, BALIKPAPAN – Musyawarah Nasional (Munas) Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia (PGLI) ke-13 resmi dimulai hari ini di Balikpapan, Kalimantan Timur.  Acara yang berlangsung dari tanggal 17 hingga 21 Maret 2025 ini bertujuan mempererat persatuan dalam memberitakan kabar baik serta memperkenalkan Ibu Kota Negara (IKN) baru kepada warga Injili Indonesia.

    Ketua Panitia, Pdt. Anthon Tarigan, menegaskan bahwa Munas ini merupakan bentuk kontribusi PGLI dalam mendukung program-program pemerintah, termasuk pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur.

    “Kami berharap, melalui acara ini, dapat terjalin harmoni di tengah masyarakat Balikpapan yang majemuk dan turut mendukung suksesnya program pemindahan Ibu Kota Negara. PGLI ingin menjadi bagian dari proses besar ini dengan terus membawa pesan-pesan kasih dan persatuan,” ujar Pdt. Anthon Tarigan.

    Penyambutan Tamu dan Akomodasi yang Optimal

    Wakil Ketua Panitia, Pdt. Samuel Wattimena, menyampaikan bahwa panitia menyambut dengan hangat semua tamu, termasuk pimpinan Sinode, pimpinan lembaga-lembaga Injili, yayasan Injili, serta pengurus wilayah dan pusat.

    “Penyambutan di bandara telah kami lakukan dengan baik, dan akomodasi sudah disiapkan di dua hotel, yaitu Novotel dan Hotel Ibis. Kami terus berkoordinasi untuk memastikan semua peserta terlayani dengan baik, mengingat adanya kemungkinan keterlambatan pesawat atau perubahan jadwal,” jelas Pdt. Samuel Wattimena.

    Jumlah peserta yang telah terkonfirmasi hadir mencakup 97 Sinode, 65 lembaga Injili, dan perwakilan dari 32–33 wilayah. Meski proses input data masih berlangsung, Pdt. Samuel Wattimena memastikan bahwa persiapan sudah mencapai 90 persen.

    “Kami bekerja keras agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Kami ingin memastikan bahwa semua peserta mendapatkan pengalaman yang nyaman dan bermakna selama Munas ini,” tambahnya.

    Acara Pembukaan yang Meriah dan Penuh Nilai Budaya

    Acara pembukaan Munas akan dilangsungkan di Dome Balikpapan, sementara persidangan akan diadakan di Living Plaza, lantai 3 Balikpapan, tempat yang biasa digunakan oleh Gereja Favor of God untuk melaksanakan ibadahnya.

    Acara pembukaan terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu Pembukaan Resmi dan Ibadah Pembukaan, serta Penampilan Budaya dan Ibadah.

    “Pembukaan resmi ini bersifat seremonial dan kami berharap dapat dibuka langsung oleh perwakilan dari Kementerian Agama. Kehadiran pejabat pemerintah dari Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Balikpapan juga menjadi dukungan penting bagi acara ini,” ujar Pdt. Anthon Tarigan.

    Dalam acara ini, keberagaman budaya Indonesia akan ditampilkan melalui Tarian Tradisional Dayak serta Tarian Korosal yang melibatkan lebih dari 100 penari.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa PGLI menghargai keberagaman budaya Indonesia. Ini bukan hanya soal pertemuan agama, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai kebudayaan yang ada,” tambah Pdt. Anthon Tarigan.

    Agenda Persidangan dan Pembicara Utama

    Rangkaian persidangan akan mencakup penyampaian laporan, rapat-rapat sidang komisi, serta peningkatan kapasitas melalui berbagai pemaparan dari pembicara ternama.

    Para tokoh yang akan mengisi acara antara lain: Dr. Bambang Budijanto, Sekretaris Jenderal Asia Evangelical Alliance.l, Gomar Gultom, Mantan Ketua Umum PGI dan Ketua Pengarah PGLI, Pdt. Jose Carol, Pastor dari JPCC, salah satu gereja terbesar di Indonesia, serta Beberapa Ketua Sinode lainnya yang akan memberikan materi terkait topik-topik penting.

    “Ini adalah kesempatan emas bagi seluruh peserta untuk mendapatkan pengetahuan baru dan mempererat jejaring pelayanan Injili di Indonesia,” tegas Pdt. Anthon Tarigan.

    Proses Pemilihan Ketua Umum PGLI

    Sesi terakhir dalam persidangan pada tanggal 20 Maret 2025 akan diisi dengan proses pemilihan Ketua Umum PGLI yang baru. Panitia menargetkan agar Ketua Umum terpilih dapat segera dilantik pada tanggal 21 Maret 2025.

    “Pemilihan ini diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang mampu membawa PGLI menjadi lebih baik dalam menjalankan amanah pelayanan di tengah masyarakat Indonesia,” kata Pdt. Anthon Tarigan.

    Target Kehadiran yang Signifikan

    Acara pembukaan diharapkan akan dihadiri oleh sekitar 3.000 orang, terdiri dari 2.500 jemaat PGLI dan 500 peserta undangan. Jemaat yang hadir sebagian besar berasal dari Balikpapan dan sekitarnya, menunjukkan antusiasme besar dari warga Injili terhadap acara akbar ini.

    “Dengan persiapan yang matang dan dukungan berbagai pihak, Munas PGLI ke-13 diharapkan menjadi momentum bersejarah bagi PGLI dalam mempererat persatuan, merumuskan visi pengabdian, dan menentukan langkah strategis dalam menghadapi tantangan zaman, pungkas Pdt. Anthon Tarigan. (*)

  • Tunjukkan Kepedulian Melalui Bhakti Ramadhan 2025, Ponpes Al Zaytun Sumbangkan Beras dan Gula Kepada Jurnalis Pewarna Indonesia

    Tunjukkan Kepedulian Melalui Bhakti Ramadhan 2025, Ponpes Al Zaytun Sumbangkan Beras dan Gula Kepada Jurnalis Pewarna Indonesia

    WARTANASRANI.COM, JAKARTA – Pondok Pesantren Al Zaytun Indramayu kembali menunjukkan kepeduliannya dengan menyumbangkan beras dan gula kepada wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (Pewarna Indonesia). Bantuan ini diberikan dalam rangka Bhakti Ramadhan 2025 pada Senin (17/03) di Kemanggisan, Jakarta Barat.

    Pada kesempatan tersebut, tim dari Ponpes Al Zaytun yang terdiri dari Suban, Selamat Royadi, Boy, dan Tim LogNews TV menyerahkan secara simbolis 100 paket beras (5 kg per paket) dan 100 paket gula (2,5 kg per paket). Bantuan tersebut diterima oleh Jun dan Fendi yang mewakili Pewarna Indonesia.

    “Pak Syekh Panji Gumilang menitipkan salam buat Pak Yusuf dan seluruh Pewarna Indonesia,” ujar Suban saat menyerahkan paket bantuan. Ia juga menyampaikan harapan agar bantuan ini dapat bermanfaat bagi para wartawan dalam menjalankan tugasnya selama bulan suci Ramadhan.

    Ketua Umum Pewarna Indonesia, Yusuf Mujiono, bersama Sekjen Ronald Onibala menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pesantren Al Zaytun atas perhatian dan kepedulian yang terus diberikan setiap tahun.

    “Terima kasih kepada Pak Syekh Panji Gumilang serta seluruh pimpinan dan santri Ponpes Al Zaytun yang telah berbagi berkah Bhakti Ramadhan. Kami selalu berdoa untuk kesehatan Syekh dan keberkahan Ponpes Al Zaytun,” ungkap Yusuf Mujiono melalui pesan WhatsApp dari Balikpapan, tempat ia sedang meliput Musyawarah PGLII.

    Pewarna Indonesia sendiri telah beberapa tahun terakhir menerima bantuan dari Ponpes Al Zaytun, baik dalam bentuk beras, gula, maupun daging kurban, menjelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

    Tradisi berbagi ini menjadi wujud nyata solidaritas dan persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kasih sayang dan perhatian yang diberikan oleh Syekh Panji Gumilang kepada Pewarna Indonesia menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

    Meskipun berbeda keyakinan, semangat kebersamaan tetap terjalin erat dalam bingkai persaudaraan sebangsa dan setanah air. Selamat menjalankan ibadah puasa dan menyambut Hari Raya Idul Fitri.